Baksos Perisai FS-UH di Desa Bontoa Bahari Kabupaten Pangkep

Hari sabtu (29/3/2014) kemarin, para pengurus dan beberapa warga perisai fs-uh mengadakan baksos di dusun sabang, desa bontoa bahari, kecamatan bontoa, Maros.

Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja divisi kesejahteraan umum sebagai wujud kepedulian kepada orang-orang yang kurang mampu.

Rombongan baksos berangkat dari kampus unhas sekitar pukul sebelas siang menuju lokasi. Setibanya disana, kita disambut oleh ketua dusun sabang yang rumahnya juga dijadikan tempat persinggahan untuk para pengurus yang akan melakukan baksos.

Agenda dari kegiatan baksos ini sendiri cukup berbeda dari baksos-baksos yang telah diadakan sebelumnya. Pelayanan jasa seperti mengajar anak-anak sekolah dan melakukan pembersihan di masjid dan sekitar desa serta pemberian atribut lingkungan seperti tempat sampah, papan atribut penunjukan tempat dan lokasi desa juga diberikan kepada para warga melalui kepala desa.

Hal ini dirasa lebih bermanfaat lebih kepada para masyarakat. Antusias para warga juga begitu besar ketika menyambut kedatangan rombongan.

Anak-anak kecil yang masih berseragam sekolah berdiri di pinggir jalan dan meneriaki menyambut kedatangan kami. Para warga juga sangat bersemangat ketika mengantar anak mereka untuk diajar oleh kami.

Sesaat sebelum pulang kembali ke Makassar, kepala desa mengucapkan rasa terima kasih kepada kami dan berharap kegiatan ini kembali diadakan.

Sebelum kembali ke Makassar, ketua perisai fs-uh memberikan beberapa bingkisan secara simbolis kepada ketua dusun sabang. Tepat setelah adzan maghrib berkumandang, kami meninggalkan lokasi setelah menyempatkan berpamitan dengan beberapa warga desa bontoa bahari.

Perisai Gelar Diskusi UKT dan UU PT

Disilet UKTPerhimpunan Mahasiswa Sastra Inggris (PERISAI) Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin menggelar diskusi yang diberi nama DISILET atau Diskusi Intelektual yang biasanya diadakan sekali dalam 2 minggu pada Jumat, 21 februari 2014. Bertempat di pelataran fakultas Sastra, kali ini, diskusi yang berdurasi sekitar 2 jam dan dihadiri 30 mahasiswa dari berbagai jurusan tersebut mengangkat tema “Mengenal UKT dan UU PT” dengan pemateri Saudara Slamet Riyadi, Ketua Perisai periode 2013/2014 dan Abdullah Fikri Asri, ketua HIMAHI (Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UNHAS periode 2011/2012.

Diskusi mengenai Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan Undang-Undang Perguruan Tinggi (UU PT) menurut Stevany Wijaya, salah seorang anggota divisi Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) PERISAI dirasa perlu, terutama bagi mahasiswa angkatan 2013 yang tidak mengetahui seluk beluk UKT karena tidak memperoleh sosialisasi dari pihak kampus. UKT sendiri adalah besaran biaya yang harus dibayar setiap semester oleh mahasiswa sejak menjadi mahasiswa baru hingga setelah wisuda dan dibagi rata dalam 8 semester. Menurut Abdullah Fikri Asri, UKT mendorong terciptanya sifat diskriminatif dikalangan mahasiswa karena UKT mengatur subsidi silang, yaitu mahasiswa yang berasal dari keluarga mampu mensubsidi mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Padahal Negaralah yang berkewajiban mencerdaskan anak bangsa melalui pendidikan tanpa perlu adanya subsidi silang.

Selanjutnya, Slamet Riyadi mengatakan bahwa UKT meliputi segala pembayaran yang bersifat akademik, misalnya KKN, praktek laboratorium, modul (hanya jika dosen mengatakan bahwa modul tersebut masuk dalam pembayaran UKT) dsb serta segala pembayaran yang masuk direkening rektor. Kegiatan kemahasiswaan sendiri tidak berkaitan dengan UKT. Ia bercerita bahwa beberapa bulan lalu, Wakil Dekan III Fakultas Sastra melarang pungutan yang ditujukan ke mahasiswa baru jurusan Sastra Inggris oleh panitia Freshmen Training Camp (FTC) dan Perisai Camp (PC) karena mahasiswa angkatan 2013 telah membayar UKT. Padahal menurut Nirwan, salah seorang dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) dan perumus UKT, pembayaran kegiatan oleh lembaga kemahasiswaan tidak ada kaitannya dengan UKT karena UKT hanya meliputi pembayaran akademik saja. Kita dapat melihat bahwa UKT di UNHAS jelas tidak dipahami dengan baik oleh birokrasi kampus dan bagaimana kita bisa tahu dengan jelas kemana arah uang orangtua kita?

Pelatihan Advikasi Perisai FS-UH

IMG_1572Tanggal 15-16 Februari kemarin, Perisai FS-UH melaksanakan Pelatihan Advokasi yang bertempat di ruang perkuliahan SIL. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini dimulai dari sabtu pagi hingga minggu sore dan dibuka secara resmi oleh ketua BEM KMFS-UH, Arifuddin. Target Peserta dari kegiatan ini adalah Warga Perisai FS-UH utamanya angkatan 2013, 2012 , dan 2011. Pelatihan advokasi ini merupakan Program Kerja Divisi Informasi dan Komunikasi Perisai FS-UH.

Selain dari kalangan Mahasiswa, pemateri pelatihan advokasi ini juga berasal dari Paralegal dan Aktivis sosial. Materi yang diberikan dalam pelatihan ini saling berhubungan Mulai dari Kedudukan Mahasiswa Dalam Masyarakat, Dasar-dasar advokasi, Mahasiswa dan Paralegal, Pengantar Riset Advokasi, Advokasi Kampus dan Propaganda dan Agitasi.

Metode yang digunakan dalam penyampaian materi cukup bervariasi. Mulai model ceramah, FGD, hingga Sharing. Hal ini dilakukan demi memudahkan pemahaman peserta terhadap Advokasi.

Dengan diadakannya Pelatihan Advokasi ini diharapkan dapat memberi pengetahuan dan pemahaman dasar mengenai Advokasi dan mempersiapkan peserta agar cakap dalam kerja-kerja advokasi.

 

Surat Terbuka Kepada Dekan Fakultas Sastra Unhas

Dalam novel Imperium karya Robert Harris, Tokoh Marcus Tellius Cicero adalah pengacara yang berani menggugat pemangku jabatan gubernur Roma, Verres.Korupsi yang dilakukan gubernur itu memang keterlaluan, ia dengan tega memiskinkan banyak penduduk kota.

Kisah dimulai ketika Tiro, sekretaris pribadi senator Romawi, Marcus Tullius Cicero, membuka pintu pada suatu hari bulan november yang dingin dan menemukan seorang pria tua yang ketakutan, penduduk Sisilia yang menjadi korban perampokan gubernur Romawi korup, Verres. Orang itu meminta Cicero mewakilinya menuntut sang gubernur. Namun, bagaimana seorang senator yang tidak kaya, tak dikenal, bahkan dibenci kaum aristokrat, dapat memulai tuntutan terhadap seorang gubernur Romawi yang kejam dan memiliki pendukung di tempat tinggi?

Fakultas kita saat ini mengalami krisis kepercayaan. Dekan yang memimpin telah mencoreng statute UniversitasHasanuddin, seperti itulah yang diungkapkan oleh beberapa Guru Besar Fakultas Sastra, dalam orasinya di depan Gedung Mattulada, bersama beberapa dosen yang kecewa melihat Fakultas Sastra saat ini.

Mereka turun aksi menuntut Dekan Prof. Dr. Burhanuddin Arafah agar memperbaiki kinerja dan kepemimpinanya. Permasalahan yang berbelit-belit seperti tidak pernahnya terselenggara rapat senat untuk pembahasan program kerja dan anggaran serta pertanggungjawaban Dekan, pemilihan ketua, dan sekretaris jurusan tanpa memperoleh pengesahan senat, serta lembaga senat fakultas yang dibiarkan lowong selama lebih delapan bulan sehingga telah menyalahi statuta fakultas. Masalah itu memang mengundang berbagai kecaman dan menyulut kemarahan warga fakultas sastra.

Belum lagi permasalahan mendasar mahasiswa seperti kekerasan akademik, toilet fakultas yang kotor, ruang belajar yang tidak layak serta fasilitas kampus yang lainnya tidak memadai dan tidak adanya transparansi anggaran kemahasiswaan yang dinilai sarat untuk melakukan korupsi.

Kekerasan akademik adalah hal paling terkutuk yang tega dilakukan birokrasi terhadap mahasiswa. Mengancam skorsing dan drop out  adalah senjata birokrasi untuk menakut-nakuti mahasiswa.

Bagi mahasiswa, ancaman itu adalah pembodohan yang dilakukan orang terhormat. Sama dengan anggapan Cicreo, ancaman itu tidak dibenarkan dilakukan oleh seorang pejabat. Permasalahan itu membuat lembaga mahasiswa memiliki “kepentingan” agar kejadian seperti itu tidak terulang lagi di masa yang akan datang.

Kebenaran memang berbeda sekedip mata dengan ketidakbenaran. Dosen mungkin kecewa dengan Dekan, begitupun mahasiswa. Aksi yang dilakukan tim dosen tersebut setidaknya membuktikan bahwa selain lembaga mahasiswa– juga banyak orang diluar sana – yang resah terhadap kemiskinan hati dekan kita untuk berbuat lebih baik bagi “warga sastra”.

***

Cicero tahu bahwa Verres telah menggunakan jabatannya untuk melakukan kejahatan. Korupsi dan memiskinkan rakyat Roma. Itu salah dan tidak pernah ada pembenaran seorang gubernur melakukan tindakan korupsi. Dengan menggugat Verres, Cicero berhasil membuka mata rakyat Roma bahwa tirani yang didirikan penguasa tetap bisa dijatuhkan melaui ruang-ruang resmi.

Cicero berhasil memenjarakan Verres. Tuduhan korupsi itu terbukti benar. Rakyat gembira dengan keberhasilan Cicero menumbangkan rezim Verres. Setidaknya rakyat merasa bahwa ada yang berkenan mendengar aspirasinya dan mereka sekarang telah memiliki pahlawan: Cicero.

***

Begitu banyak keganjalan dan kesewenang-wenangan Prof. Burhanuddin Arafah selama menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra. Sebagai mahasiswa, apa kita masih layak menyebut ia sebagai dekan? Kita tidak perlu menjawabnya, sebab tentu itu hanya membuang-buang waktu. Siapapun orang di fakultas ini tahu bagaimana kinerja dekan. Mengecewakan.

Sebaik-baik orang yang berpendidikan tinggi adalah yang mau mempertanggungjawabkan apa yang telah ia lakukan. Sebelum kemarahan “warga sastra” semakin menjadi-jadi, sebaiknya bapak dekan turun dari jabatannya. Terlalu banyak masalah yang tidak bisa lagi ia kendalikan.

Jika bapak memang tidak ingin melepas jabatannya, melihat begitu banyak tuntutan yang menginginkan dekan turun, kita bisa melihat sungguh dekan kita adalah orang yang gila jabatan. Hanya orang yang bertanggung jawab yang seharusnya menjadi dekan.

 

MAHASISWA MELANGGAR, DISKORSING

DEKAN MELANGGAR, .……….………. ???

Salam perjuangan!

Hidup Mahasiswa!

Perisai Unpluged

Rabu, 22 Januari 2014, beberapa warga Perisai FS-UH mengadakan Live Akustikan yang diberi nama Perisai Unplugged dan bertempat di Taman Perisai. Kegiatan ini memiliki Tema “Come and Sing Your Song” jadi siapa saja bisa datang dan menyumbangkan lagu. Kegiatan ini cukup menarik warga Perisai lainnya. Terbukti dari sekitar Puluhan lagu dari berbagai Genre musik telah dinyanyikan dalam kegiatan ini. sejak dibuka pada pukul 16:30 Sore, kegiatan ini baru berakhir ketika menjelang pukul 23:30.

20140122_171436