Category Archives: Home

BBM Naik, Masyarakat Semakin Tercekik

Belum genap sebulan setelah Presiden dan Wakil Presiden Jokowi-JK dilantik, kebijakan-kebijakan mulai dikeluarkan, termasuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Tepatnya awal November, rencana kenaikan BBM mulai berhembus dikalangan masyarakat. Kebijakan inipun langsung disambut dengan berbagai reaksi dikalangan masyarakat yang kebanyakan menolak kebijakan tersebut. Di Makassar khususnya, berbagai kampus melakukan aksi penolakan kenaikan BBM yang berujung pada bentrok antara mahasiswa dan aparat di salah satu kampus negeri di Makassar. Tak hanya sampai disitu, aksi penolakan BBM inipun diikuti oleh kampus-kampus di Makasar hari-hari berikutnya yang puncaknya terjadi pada tanggal 17 November, dimana Jokowi akhirnya mengumumkan secara resmi tentang kenaikan BBM sebesar Rp. 2000/liter.

Tentu ini bukan kali pertama masyarakat Indonesia dihadapkan dengan naiknya harga BBM yang berimbas pada naiknya harga bahan pokok lainnya. Sebelumnya, terhitung sejak masa kepemimpinan Soekarno hingga SBY, harga BBM setidaknya 36 kali telah mengalami kenaikan.  Artinya, jika dirata-ratakan usia berdirinya Indonesia, setiap 1,5 tahun harga BBM mengalami kenaikan (Hans, 2013). Naiknya harga minyak mentah dunia dan tidak tepat sasarannya subsidi menjadi alasan pemerintah menaikkan harga BBM. Namun, berbeda dari kenaikan BMM sebelum-sebelumnya, kebijakan untuk menaikkan harga BBM akhir tahun 2014 ini dikeluarkan justru ketika harga minyak mentah dunia mengalami penurunan. Hal ini semakin memicu penolakan besar-besaran masyarakat Indonesia terhadap kebijakan tersebut.

Bercermin dari yang lalu-lalu, kenaikan harga BBM selalu membawa dampak yang besar tak hanya bagi masyarakat, tapi juga bagi anggaran negara yang tentu akan mengalami defisit. Seperti yang dilansir www.rri.co.id bahwa berdasarkan anggaran untuk total subsidi mencapai Rp. 317,2 triliun, sementara untuk subsidi BBM sendiri mencapai Rp. 193,8 triliun. Bila tidak dikendalikan maka total subsidi bisa mencapai Rp 446,8 triliun, dan subsidi BBM saja bisa mencapai Rp. 297,7 triliun. Ini berarti, defisitnya bisa mencapai Rp. 353,6 triliun atau 3,83 persen dari produksi domestik bruto di atas batas aman yang ditentukan dalam UU Keuangan Negara. Hal ini akan berakibat pada terancamnya kesehatan fiskal serta dapat menganggu ketahanan nasional. Selain itu BBM bersubsidi selama ini juga dipandang tidak tepat sasaran, karena sekitar 70 persen dinikmati oleh kelompok masyarakt menengah ke atas.

Disisi lain, masyarakat kalangan menengah kebawah yang merupakan consumers terbesar dari BBM merasa bahwa kenaikan harga BBM yang juga berimbas pada naiknya bahan pokok lain sangat berdampak pada kelangsungan hidup mereka. Naiknya harga BBM juga menjadi faktor meningkatnya angka kemiskinan sebesar 17 persen di tahun 2005 silam. Selain itu tingginya harga bahan pokok akan menyebabkan daya beli masyarakat miskin menurun sementara biaya hidup semakin tinggi dan pengangguran semakin bertambah. Maka jangan heran jika kalimat “yang kaya semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin” menjadi jargon yang sering kita dengar nantinya sebab kenaikan harga BBM yang berpengaruh pada naiknya harga bahan pokok yang membuat rakyat kecil semakin tercekik.

Berkarya Hingga Akhir

 

Lagi, dunia sastra berduka di awal bulan November. Seorang sastrawan asal Makassar telah meninggal dunia dalam usianya yang ke 51 tahun setelah mengelar pementasan di Benteng Rotterdam Makassar. Ialah Asdar Muis sang penulis karya sastra dan esai (esais), budayawan sekaligus jurnalis. Beliau diduga terkena serangan jantung dan sempat dilarikan ke rumah sakit Pelamonia, Makassar, pada senin terakhir di bulan Oktober.

Asdar Muis adalah sosok sastrawan juga jurnalis yang menyelesaikan program sarjana dan magister di fakultas Ilmu Sosial dan politik Universitas Hasanuddin. Lahir di Pangkep Sulawesi Selatan 13 Agustus 1963, Asdar Muis memang dikenal sebagai sosok yang sangat cinta dengan dunia sastra, kebudayaan dan teater. Sejak SMA ia telah gemar menulis beberapa karya sastra khususnya puisi dan sajak. Beberapa karyanya pernah dimuat dalam surat kabar tidak hanya diwilayah Makassar, tapi ia juga sering mengirimkan karyanya tersebut ke beberapa surat kabar di luar Makassar. Beliau juga banyak memberikan kontribusi pada dunia sastra melalui beberapa novel, cerpen dan puisi yang dibuatnya.

Didunia jurnalistik, pendiri komunitas ‘Sapi Berbunyi’ Makassar ini pernah menjadi Pemred Tabloid Harian Suaka Metro Jakarta, redpel Manado Post dan Tabloid Anak Wanita Gita Jakarta, Redaktur Harian Berita Yudah, bekerja di Harian Fajar, Koresponden, MBM Tempo, Kepala Biro Harian Nusa-Bali Jakarta, Direktur Pemberitaan Harian Pedoman Rakyat dan beberdapa media lainnya si Sulawesi dan Kalimantan.

Merupakan lulusan dari Akademi Seni Drama Indonesia (ASDRAFI) Yogyakarta, Asdar Muis dalam kesehariannya tak pernah lepas dari dunia teater. Ia bahkan membeli rumah dan merancangnya menjadi seperti panggung pada tahun 2003. Hingga akhir hayatnya, ia masih mengikuti pementasan di Benteng Roterdam dalam Sastra Kepulauan.

 

 

Dari berbagai sumber

TOEFL Prediction Test

Sabtu, 18 Oktober 2014 Perhimpunan Mahasiswa Sastra Inggris (PERISAI FS-UH) kembali mengadakan TOEFL Prediction Test yang bertempat di Aula Prof. Mattulada Fakultas Sastra Unhas. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh PERISAI FS-UH tiap tahunnya yang bertujuan untuk memperkenalkan dan meningkatkan kemampuan bahasa Inggris untuk mahasiswa baru. Kegiatan yang dimulai pukul 13.30 WITA ini diikuti tidak hanya dari kalangan mahasiswa baru, tetapi juga beberapa dari mahasiswa angkatan lama. Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja dari Divisi Penelitian dan Pengembangan PERISAI FS-UH yang dimana beberapa hari sebelumnya para mahasiswa baru telah diberi materi dan latihan soal TOEFL.

Seperti yang kita ketahui bahwa TOEFL sendiri bertujuan untu mengetahui seberapa jauh kemampuan bahasa Inggris sesorang dan juga sangat berguna dalam beberapa hal seperti pada saat melamar pekerjaan, pertukaran pelajar dan lain sebagainya.TOEFL Prediction Test kali ini bekerjasama dengan lembaga bimbingan belajar Endeavor. Kegiatan yang diikuti 56 mahasiswa baru Sastra Ingris angkatan 2014 dan 7 dari mahasiswa umum ini berakhir sekitar pukul 15.00 WITA.

Selamatkan Pandang Raya (Panggung Bebas Ekspresi)

Penggusuran Pandang Raya 17 September lalu ini tengah menjadi pemberitaan yang hangat di kalangan para aktivis dan masyarakat Makassar.

Pandang Raya yang berlokasi di daerah Panakukang ini digusur oleh seorang pengusaha bernama Goman Waisan yang mengklaim Tanah ini sebagai miliknya setelah kabarnya memenangkan legalitas kepemilikan tanah Pandang Raya di Mahkamah Agung. Hal ini menimbulkan keprihatinan yang besar. Sebanyak 42 kepala keluarga harus memboyong keluarganya untuk menetap sementara di tenda-tenda yang didirikan oleh masyarakat sekitar ditambah kondisi finasisal yang kurang untuk membeli bahan sandang, papan, dan pangan.

Peristiwa penggusuran ini juga telah menyadarkan beberapa orang akan pentingnya kepedulain sosial, seperti di Fakultas Sastra, tepatnya di Pelataran Aula Prof. Mattulada, yang pada hari Rabu (17/9/2014) telah diadakan Panggung Bebas Ekspresi dalam rangka pengumpulan donasi untuk korban pandang raya.

Kegiatan ini dimulai sekitar pukul 4 sore, dengan penampilan beberapa vokalis dan pembacaan puisi serta penyebaran informasi tentang pandang raya kepada warga Fakultas Sastra melalui dokumentasi foto atau selebaran kronologi penggusuran.

 

 

Dimasakin “PENDIDIKAN”

Jum’at 13 September 2014 PERISAI mengadakan diskusi lepas dengan tema “PENDIDIKAN”. Diskusi Malam Sabtu di Kampus atau disingkat DIMASAKIN ini merupakan program kerja dari Divisi Penelitian dan pengembangan untuk mewadahi warga dalam hal berdiskusi. Bedanya dengan diskusi-diskusi yang dilakukan sebelumnya ialah, DIMASAKIN ini hanya ada moderator dan tidak memiliki pemateri yang langsung, tapi Divisi Litbang memberikan handout seputar materi yang akan didiskusikan. Jadi semua peserta yang hadir dalam diskusi bisa langsung menyampaikan opininya tentang materi melalui moderator. DIMASAKIN ini disambut baik oleh warga. Diskusi yang dimulai sekitar pukul 7.30 ini diikuti sekitar 20 orang. Rencana dari Litbang bahwa DIMASAKInNini akan menjadi rutinitas setiap 2 minggu sekali.

Diskusi Publik “Dilema Besar PERMENDIKBUD No. 49 Th. 2014 Tentang Masa Studi Mahasiswa”

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Sastra Unhas (BEM KMFS-UH) kembali mengadakan diskusi publik yang dilaksanakan pada Kamis, 12 Sepetember 2014. Diskusi publik ini bisa dikatakan merupakan kegiatan rutin dari lembaga mahasiswa tingkata fakultas ini. Adapun tema dari diskusi publik ini ialah “Dilema Besar PERMENDIKBUD No.49 Tentang Masa Studi Mahasiswa” dengan pembicara antara lain Rachmat Julaini, Muh. Ramli Rahim dan Junaedi Muhidong M.Sc selaku Wakil Rektor I Unhas yang menangani tentang akademik. Mengingat beberapa waktu lalu Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan peraturan tentang masa studi yang akan dibatasi hingga 5 tahun saja, pembatasan masa studi ini merupakan rekonstruksi dari kurikilum pendidikan itu sendiri. “Untuk masa studi S1, batas minimumnya 4 tahun atau sekitar 7 sampai 8 semester, untuk batas maksimalnya hanya sampai 5 tahun saja” kata WR 1 Unhas. Diskusi yang diikuti oleh peserta dari kalangan mahasiswa dan juga beberapa dosen ini dimulai sekitar pukul 1 siang hingga pukul 4 sore.