Category Archives: Literature

Sedia Kala

Satu per satu semua kembali.

Perlahan mengitari isi bumi yang sudah sangat basi.

Jejak tawa kini jadi amarah.

Berbicara cinta kemudian kehilangan kata.

Ada apa dengan semesta?

Tidak. Biasa saja.

Kita bercerita. Kita bercanda.

Kita bernyanyi. Kita memaki.

Seperti sedia kala.

Yang kutahu hanyalah, kemanapun rasa itu pergi.

Ia akan kembali pada tempat yang sudah semestinya ia tempati.

Percayalah ;)

 

 

Aku Di Siang Hari

Tanpa sadar ku terdiam

Nafasku bertautan dengan asap rokok

Pikiranku tak teratur

Mulutku melantur

 

Tak ada yang bisa kuperbuat

Hanya bisa melamun

Jatuh kedalam khayalan

Terperangkap dalam keresahan

Seakan jiwaku tertidur

Ragaku duduk terdiam

Pikiran ku mulai kabur

Dan kesedianku mulai mendalam

 

Rezky Patiroi

Sastra Inggris Unhas 2011.

 

 

 

 

 

Kepada Para Pejuang Imajinasi

Kepada Para Pejuang Imajinasi

Biarkanlah aku turut menari bersama kalian

Terbang bersama mimpi berjelajah dimensi

Menuju surge di tepi sungai tempat para hewan berdendang

 

Kepada para pejuang imajinasi

Yang berpijak di atas taman liar

Berisikan bunga yang bermandikan sejuta warna

Yang elok dipandang dan ceria tampaknya

 

Kepada para pejuang imajinasi

Yang tak henti melawan keniscayaan

Bernapaskan semangat, cinta dan dendam

Yang tetap memilih menjadi tak waras

 

Kepada para pejuang imajinasi

pandangilah langit di atas kita yang begitu luas nan indah

kusimpan senyum ceriaku yang berbahagia

Untuk segala imajinasiku yang kelak akan terwujud

Penulis Merupakan Warga Perisai FS-UH

KeterasinganKopi Hitamku

Di kesunyian malam itu, hanya Kopi Hitamku yang setia menemaniku.

Setiap tuangan terasa begitu dekat,

hanya keenakan yang terasa seiring berjalannya malam yang menampakkan kebisuannya.

Namun, disela-sela keenakan itu,

rasa keterasingan akan Kopi Hitamku itu muncul dengan sendirinya.

Tidak tahu mengapa aku merasa kaku melakukan sesuatu seperti biasanya.

Suasana yang tampak berbisu itu membuatku tak sadar terbawa ke tempat pembaringan.

Mungkin Kopi Hitamku hanya mampu melihat ulah keterlelapan tidurku di tempat pembaringan.

Hingga pagi menjemput,

ku beranjak dari tempat pembaringanku sambil melihat Kopi Hitamku yang masih setia berada di tempat yang sama seperti semalam.

Aku tersadar semalam aku telah mengasingkan Kopi Hitamku.

Penulis Merupakan Warga Perisai FS-UH

Kampus

Kampus, ada banyak warna didalam sana,

Ada hitam, abu-abu, biru dan ada yang cerah,

Semua tergambarkan bersembunyi dibalik kepenatan suasana

Matapun tertipu olehnya, otakpun tak dapat menyingkapnya.

Kampus tempat kutemukan rona asmara

Dan alasan untuk sebuah amarah.

Milyaran teatrikal basi kembali dihidangkan

Ku kunyah habis hingga tetes kemunafikan tiada tersisahkan

Setiap gelas kopi hembusan nafas dan tawa

Menggerus dominasi cerah yang pernah indah.

Mahasiswa bagai boneka yang menangis

Dipaksa untuk berhenti kritis

Menjadi sang Mahakuasa

Tak lebih dari omongan belaka

Yang dianggap satu badan tak bisa dipercaya

Miskomunikasi ada dimana-mana

Ah sudahlah !

Toh kebenaran dimasa ini hanya sebatas konsep

Untuk mereka yang terpental dalam teatrikal

Penonton lebih suka yang sakral, eh dan agak binal !

 

5 September 2013, Diluar Kampus

Penulis Merupakan Warga Perisai FS-UH

 

 

 

 

 

 

 

 

Daun Gugur di Halaman

Kutemukan daun di halaman.
Ia gugur, dari ranting yang rindang.
Kau daun yang gugur di halaman.
Sedihkah kau, terbuang dari kumpulan.

Wahai daun yang gugur di halaman.
Kini kau tak berarti lagi.
Tak lebih dari sebuah sampah.
Yang tak ada gunanya lagi.

Kutemukan daun di halaman.
Begitu rapuh terbawa angin.
Ia kini berpijak di bumi.
Tak tahu takdir yang kan menanti.

Wahai daun yang gugur di halaman.
Mengapa engkau nampak gembira?
Senangkah engkau seperti ini?
Hina di mata setiap insan.

Daun di halaman.
Terbuang dari kumnpulan.
Tak tahu takdir kan datang menanti.

Penulis merupakan warga Perisai FS-UH