Selamatkan Pandang Raya (Panggung Bebas Ekspresi)

Penggusuran Pandang Raya 17 September lalu ini tengah menjadi pemberitaan yang hangat di kalangan para aktivis dan masyarakat Makassar.

Pandang Raya yang berlokasi di daerah Panakukang ini digusur oleh seorang pengusaha bernama Goman Waisan yang mengklaim Tanah ini sebagai miliknya setelah kabarnya memenangkan legalitas kepemilikan tanah Pandang Raya di Mahkamah Agung. Hal ini menimbulkan keprihatinan yang besar. Sebanyak 42 kepala keluarga harus memboyong keluarganya untuk menetap sementara di tenda-tenda yang didirikan oleh masyarakat sekitar ditambah kondisi finasisal yang kurang untuk membeli bahan sandang, papan, dan pangan.

Peristiwa penggusuran ini juga telah menyadarkan beberapa orang akan pentingnya kepedulain sosial, seperti di Fakultas Sastra, tepatnya di Pelataran Aula Prof. Mattulada, yang pada hari Rabu (17/9/2014) telah diadakan Panggung Bebas Ekspresi dalam rangka pengumpulan donasi untuk korban pandang raya.

Kegiatan ini dimulai sekitar pukul 4 sore, dengan penampilan beberapa vokalis dan pembacaan puisi serta penyebaran informasi tentang pandang raya kepada warga Fakultas Sastra melalui dokumentasi foto atau selebaran kronologi penggusuran.

 

 

Dimasakin “PENDIDIKAN”

Jum’at 13 September 2014 PERISAI mengadakan diskusi lepas dengan tema “PENDIDIKAN”. Diskusi Malam Sabtu di Kampus atau disingkat DIMASAKIN ini merupakan program kerja dari Divisi Penelitian dan pengembangan untuk mewadahi warga dalam hal berdiskusi. Bedanya dengan diskusi-diskusi yang dilakukan sebelumnya ialah, DIMASAKIN ini hanya ada moderator dan tidak memiliki pemateri yang langsung, tapi Divisi Litbang memberikan handout seputar materi yang akan didiskusikan. Jadi semua peserta yang hadir dalam diskusi bisa langsung menyampaikan opininya tentang materi melalui moderator. DIMASAKIN ini disambut baik oleh warga. Diskusi yang dimulai sekitar pukul 7.30 ini diikuti sekitar 20 orang. Rencana dari Litbang bahwa DIMASAKInNini akan menjadi rutinitas setiap 2 minggu sekali.

Diskusi Publik “Dilema Besar PERMENDIKBUD No. 49 Th. 2014 Tentang Masa Studi Mahasiswa”

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Sastra Unhas (BEM KMFS-UH) kembali mengadakan diskusi publik yang dilaksanakan pada Kamis, 12 Sepetember 2014. Diskusi publik ini bisa dikatakan merupakan kegiatan rutin dari lembaga mahasiswa tingkata fakultas ini. Adapun tema dari diskusi publik ini ialah “Dilema Besar PERMENDIKBUD No.49 Tentang Masa Studi Mahasiswa” dengan pembicara antara lain Rachmat Julaini, Muh. Ramli Rahim dan Junaedi Muhidong M.Sc selaku Wakil Rektor I Unhas yang menangani tentang akademik. Mengingat beberapa waktu lalu Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan peraturan tentang masa studi yang akan dibatasi hingga 5 tahun saja, pembatasan masa studi ini merupakan rekonstruksi dari kurikilum pendidikan itu sendiri. “Untuk masa studi S1, batas minimumnya 4 tahun atau sekitar 7 sampai 8 semester, untuk batas maksimalnya hanya sampai 5 tahun saja” kata WR 1 Unhas. Diskusi yang diikuti oleh peserta dari kalangan mahasiswa dan juga beberapa dosen ini dimulai sekitar pukul 1 siang hingga pukul 4 sore.

 

http://www.e-campusradio.com/2014/09/beasiswa-pascasarjana-penuh-dari-oxford-university.html